Senin, 14 Mei 2018

Menginap di Maroko, Riad atau Dar?


Apa itu Riad, apa itu Dar? 
Riad saya di Marakesh

Kalau mau travelling kalian biasanya pilih nginapnya dimana sih?
Nah kalo kalian mau ke Maroko pilihan terkenal selain Hotel dan Hostel adalah Riad atau Dar.
Riad dan Dar tu apaan sih? Apa bedanya dengan hostel atau hostel?
Baiklah jangan panik, pasang kuping baik2 ya:

Riad 
adalah sebuah rumah tradisional yang besar memiliki gaya asli penduduk disana. Biasanya berlantai 2 atau lebih, memiliki banyak kamar. Memiliki ruang tamu ditengahnya dan taman yang mini, dan memiliki Fontaine. Dari Ruang tamu dan taman ini lurus keatas sampai ke atap, tidak ditutup atau tidak beratap. Wuaah kalo hujan gitu, ruang tamu bisa basah kuyup dan kemasukan air doong. 

Keluarga Maroko biasanya adalah keluarga yang besar. Dirumah, pasti akan selalu ada orangnya. Jadi kalau pas hujan, pasti akan ada yang selalu bisa menutup celah  tak beratap ini.
Teras diatas atap
Biasanya, typically atap rumah Riads tidak menggunakan atap, tetapi lantai atap paling atas ini di cor dengan beton rata sebagai atap, dipagari lalu dijadikan teras di atas atap untuk tempat santai atau sebagian di pakai untuk tempat jemuran pakaian. Sangat effiesien sebenarnya untuk rumah kota yang sempit dan tidak bertaman.
Taman dan tempat duduk2 di ruang tengah  atau ruang tamu lantai paling bawah disebuah Riads ini sering dijadikan ruang pertemuan keluarga sekali gus jadi ruang makan.
Riad di design penuh dengan gaya artistik, penuh dengan cita rasa seni. Memiki teras, taman dan tenda diatas atap untuk bersantai atau untuk berjemur menikmati matahari disaat musim dingin telah lewat.
Riad adalah istana kecil untuk keluarga kaya di Maroko.

Dar
Dar di dalam bahasa Maroko berarti rumah. Namun ini merupakan rumah biasa. Bahkan kalau dilihat dari luar sangat sederhana.
Tetap berlantai2-3 tapi tidak memiliki taman dan lebih sempit dari Riad.
Katakanlah Dar itu bagaikan rumah bertingkat yang berbentuk ruko panjang atau apartement panjang namun dari lantai 1-3nya hanya dimiliki 1 keluarga. Menurut teman saya yang orang Maroko, Dalam sebuah Dar, biasanya lantai 1akan ditempati oleh orang tua jika mereka sudah tua, juga sebagai ruang tamu umum. Lantai tua akan di tempati oleh anak2 perempuannya dan dapur. Sedangkan lantai 3 akan di tempati oleh anak2 lelakinya karena mereka dianggap lebih kuat dan membuat akses mereka lebih mudah untuk keluar masuk ke teras di atas atap.

Sajian teh ala Maroko
Kalau dirimu berminat untuk mengunjungi Maroko, saya sarankan untuk mencari akomodasi dan menginap di Riads saja. Biarkanlah dirimu merasakan sensasi untuk menjadi putri atau pangeran Maroko beberapa hari, sensasi untuk menikmati sebuah istana kecil di maroko ini karena harganya masih sangat terjangkau banget.
Ketika saya ke Maroko pun saya sengaja memilih untuk menginap di Riad untuk sekedar merasakan Istana kecil orang Maroko ini.
Riad Hanafi yang saya tempati termasuk kategori sederhana namun sudah lumayan megah dan mampu membuat saya merasa bak Putri. Dengan harga 15 €/malam tidak ada yang perlu kita komplain disini. Dan harga ini pun sudah termasuk sarapan pagi dan sajian teh Maroko setiap sorenya.

Alamat Riad Hanafi, P2008 BAB TAGHZOUT .DRB IHIHANE N 17 MARRAKECH MAROC, Medina, 40000 Marrakech, Morocco Carolina Varga Dinicu
Ownernya berbahasa Inggris dengan baik.
Maroko murah boooooo.....


Sarapan kami ala Maroko

Liechtenstein, Negara terkecil No. 6 di Dunia

Negara tanpa airport

Weekend yang panjang ini tadi, saya melintasi 4 negara cuma dalam 1 hari.
Loh kok bisa? Hebat yaaa...

Kalo penasaran, check peta gugel kalian aja teman2, hitung2 nambah wawasan. Dinegara eropa hal ini bisa aja terjadi. 

Setelah mengunjungi Kastil Neu Schwanstein (baca : no'i swanstain) yang menjadi ide dalam film Disney yang Kastilnya terletak di Bayern München, kami melintas ke Austria, numpang makan, numpang e’ek dan pipis, lalu lanjut ke Liechtenstein, setelah itu perjalanan kami  lanjutkan ke Swiss malamnya.

Dengar kata Swiss pasti kalian penasaran kan? Saya punya banyak foto spektakuler di Swiss, tapi yang mau saya bahas duluan disini yaitu tentang Liectenstein dulu yaa.

Lichtenstein,
Adalah sebuah negara yang sangat kecil tapi kaya raya yang berbentuk Monarki dipimpin oleh seorang pangeran. Negara ini hanya berjumlah penduduk sekitar 38.000,-jiwa saja  dan ber-ibu kota Vaduz yang merupakan negara dengan urutan terkecil no. 6 di dunia. Tidak memiliki Airport sendiri, tidak memiliki kekuatan militer dan tidak memiliki team sepakbola.Makanya kalian pasti tidak ngeh sama negara ini begitu aku menyebutnya kan?? Aku pun juga begitu loh. Tadinya tahunya kalau negara inicuma negara kaya dan surga bagi para pajak-ers!

Negara ini merupakan negara yang makmur mempunyai sistem pajak yang sangat lunak, yaitu sistem free tax atau boleh dikatakan dikenakan pajak tapi dengan prosentasi yang sangat kecil sekali. Hal ini membuat banyak sekali perusahaan besar di eropa membangun markas perusahaannya dan menjalankan aktivitas headquarternya dari sini. Di negara ini boleh dikata pengangguran itu tidak ada sama sekali kecuali orangnya sendiri yang tidak ingin bekerja maka tidak ada alasan untuk jadi pengangguran.

Negara nya mungil ini, tentu Ibukotanya juga mungil doong. Saya tadinya berminat bermalam disini, tapi karena ibu kotanya aja sangat kecil, yang menurutku di pakai keliling dengan jalan kaki aja sudah cukup maka aku memutuskan tidak usah menginap disini. Karena naik mobil sendiri perjalanan kami lanjutkan setelah menikmati kota sejenak. Lebih baik save waktu, uang dan tenaga untuk negara tetangga di sebelah.

Yang jelas apapun yang ada disini mahal, terutama akomodasinya. Gak ada kelas backpackeranlah pokoknya. Lagian di ibukota ini yang menarik menurut ku cuma Kastil Vaduz ini saja. Itu pun boleh dikatakan kategori Kastil yang sangat sederhana sekali bentuknya, belum lagi kita tidak boleh masuk kedalamnya karena kastil ini masih menjadi tempat tinggal sang Pangeran, kita hanya bisa memoto dan memandang dari luar saja.

Catatan : Untuk kalian yang mau nuris dari jauh nggak usah penasaran dgn negara dan kota ini. Enggak perlu datang kesini. Kecuali kalian naik mobil sendiri sekedar numpang lewat, bolehlah. #takutkecewa


Sekian.

Selasa, 01 Mei 2018

M'Hamid, Desa Terakhir Menuju Sahara

Desa Yang Terpencil

Desa M'hamid (baca : Muhammid) adalah sebuah desa terpencil yang merupakan desa terkahir jika kita ingin menuju ke Padang Gurun Erg Chigaga.

Desa ini adalah desa yang sangat tertinggal dan miskin sekali yang hampir berbatasan dengan negara Aljeria merupakan pintu gerbang untuk menuju ke padang gurun Sahara yang bernama Erg Chegaga.
Dalam perjalanan ke Erg Chigaga kita bisa mengunjungi Oasis itu looh sebuah sungai yang terkenal satu2nya yang menggenangi  padang gurun Sahara Sahara. Untuk sampai ke sini yakinkan ke tour guide kalian kalo kalian mau melewati ini. check lah selalu offline google map kalian siapa tahu si sopir dan tour guide kalian bo'ong. Begitu lah di Maroko, kita harus berani eker ekeran soal perjalanan.

Untuk mencapai desa Mhamid kita bisa melakukan dengan cara naik bus umum dari Marrakesh jam 11.30 harga tiket 160 Dirham dan dari Ouarzazate (Bus yg dari Marakesh) jam 16.15 harga 80 Dirham. Lama perjalanan bisa 10-12 jam atau rata2 nyampe di Mhamid antara jam 11, jam 12 tengah malam. Naik bus dan train di Maroko itu unpredictable banget.

Check www.ctm.ma untuk naik bus ke sini.
Kehidupan disini sangatlah sulit. Tidak ada taxi maupun ojek. Desa ini tidak memiliki Bank apalgi Atm, tempat penukaran uang pun belum ada. Jadi kalau mau kesini yakin kan diri untuk membawa uang yang cukup. karena untuk mendapatkan uang cash atau atm ataupun money changer disini kita harus pergi ke desa lain yang lebih besar seperti Desa Zagora, tentunya dengan cara mencharter mobil ke Zagora. Nah kebayangkan berapa lagi biaya yang harus dikeluarkan. Belum lagi jauhnya itu looh.
Perjalanan yang di tempuh ke Zagora bisa 4-5 jam.

warung-warung itu disini
Kalau tidak mau repot atau ada rasa takut ke Mhamid sendiri, kalian bisa ikut tour dari Marakesh. Banyak hotel atau Riads yang menawarkan paket tour di Marakesh (kalo saya mah ogah pake tour karena merasa kurang seru). Cuma yang perlu kalian ingat hati2lah dalam memilih tour karena mereka banyak bo'ongnya juga disini. Banyak tourist scam, yaitu menjual paket yang tidak sesuai dengan apa yang mereka janjikan. Atau mereka menjual paket tetapi mereka tidak mempunyai orang sendiri di Mhamid atau di gurun. Anda hanya di over ke orang lain sebenarnya. Jadi kalau ada masalah, pasti tidak bisa complain juga.




Hal ini sebenarnya yang menjadi alasan utama saya ogah membeli paket tour. Jiwa petualanganku lebih senang untuk mencari jalan sendiri dan mengatasi sendiri jika ada masalah.

Aku dan anak ku Ribka bisa nyampe kesini bener2 by luck. Bayangkan, dari Jerman sana Mhamid sudah masuk list ku sebagai padang gurun yang ingin ku kunjungi karena ke-isolasian-nya dan cerita tentang padang gurun Erg Chigaga nya yang bagaikan dongeng fairytale itu. Membuat keinginan ku kesini lebih besar daripada ke Padang Gurun Merzouga.

Pusat desanya disini
Aku kesini pergi sendiri dengan anak ku Ribka yang berusia 8 tahun. Karena maksa mau pergi sendiri, gak mau ikut grup, gak mau open trip yang belum lagi harus nenteng anak, aku berhasil bikin spot jantung suami yang tinggal di Jerman.
Aku sendiri mengalami schok kultur yang tinggi.
 
Selain gak bisa bahasa Arab, bahasa Perancisku pun parah cuma tebak2 buah manggis, nyampe kesini tengah malam. 

Desa ini adalah desa yang kecil sekali, nyaris tidak ada apapun disini, cuma di tengah2 desa aja ada 3-4 warung makan yang mereka sebut restoran, tidak banyak pilihan apalagi kemewahan. 
Desa ini cukup disusuri pake jalan kaki aja maka sudah cukup mengelilinginya. Yang bikin was was adalah orang2 disekitarnya. Mereka Suku Nomads asli yang tinggal di desa ini masih berpakaian asli ala nomad. Dijalanan dan di warung yang terlihat hanyalah ada laki-laki, perempuan tidak ada dijalanan di desa ini karena mereka masih memegang tradisi yang kuat. Perempuan harus tinggal di rumah saja dan menyembunyikan diri mereka disana. Jadi untuk turis perempuan, walaupun mereka menerimanya disini, berhati2lah terutama dalam cara berpakaian. Bijaksanalah!

Karena kampung ini sangat miskin, ada baiknya kalau kalian kesini bawa bahan makanan sendiri dari kota. Seperti saya bilang, bawalah Nutella atau salami atau ham atau apapun yg bisa kalian jadikan makanan karena disini tidak banyak yg bisa kalian dapatkan. Karena terpencil dan tandus bahan makanan jadi susah sekali didapatkan. Tapi Roti khas maroko itu masih bisa kita dapatkan dimana mana. Saat menginap disini pun kita harus memesan makanan duluan misalnya untuk sarapan atau makan malam. karena walapun pun menginap di hotel stock bahan makanan tidak selalu tersedia. Jadi mereka perlu waktu untuk mencari dan menyiapkan makanan untuk tamu.


Para Nomads yang menawarkan saya tour
Hal lain, Bawa lah toilet tissue atau handuk jika kesini. Karena di hotel dan di gurun sering tidak di sediakan. Bukan hal yang common untuk mereka disini.

Catatan: Perhatian! Penduduk di Mhamid itu masih tradisional sekali, aku bilang mah masih primitive. Mereka tidak suka difoto. Jangan pernah main japret sembarangan, jangan memfoto obyek manusia dan kehidupan pribadi mereka. Karena mereka bisa akan sangat agressive untuk hal ini. Saya alami sendiri makanya tidak punya foto banyak dan bagus disini.Jadi nervous dan kapok.

Jika ingin tahu cara ke Erg Chigaga, bacalah cerita di halaman dibawah ini :
https://alceganyau.blogspot.de/2018/04/padang-gurun-sahara.html

 

Kamis, 26 April 2018

Kasbah Ait Ben Haddou, Maroko

Kasbah Kuno tempat pembuatan film

Kasbah Ait Ben Haddou dari kejauhan
Adalah sebuah Kasbah tua yg dibangun dari lumpur dan tanah lihat.
Tempat ini menjadi bagian target utama wisatawan ketika orang berkunjung ke Maroko.
Karena sejarah ketuaan dan keunikankannya dan juga posisinyalah maka Kasbah Ait Benhaddou ini menjadi ajang pembuatan film2 kolosal terkenal diseluruh dunia seperti :
*Sodom and Gomora
*Gladiator
*Simson and Delila
*The Bible
*Abraham
*Indiana Jones
*Lawrance of Arabia
*The Jewel of The Nile
*Asterix
*Queen of the Desert
*Prince of Persia dll..

Untuk kesini bisa naik travel bus atau bus umum dr Marrakesh ke Ourzazate. Bus dari Marakesh tiap kali cuma 1x berangkat. Kalau naik grand taxi dari Marrakesh harga berkisar sekitar 200-300 dirham. Tapi kalu mau share taxi bisa sekitar 50 dirham per orang. Dan dari Ourzazate naik taxi kesini paling juga 30 dirham, kalau share dikenakan antara 5-10 dirham per orang. negolah yang kencang dgn orang maroko yg pinter ngomong.

Kalau kesini gak perlu nginap sebenarnya ( saya milih nginap krn besoknya mau ke padang pasir), kesini cukup bolak balik aja karena dlm jangka waktu 1 jam, kita pasti sdh selesai keliling Kasbah termasuk foto2 dan selfie.

Harga masuk Kasbah cuma di tarok begini
Masuk ke Kasbah ini cukup bayar 10 dirham atau kurang lebih 1 euro.
Cara menemukan atau menuju Kasbah itu gampang banget. Kampung disini sangat kecil, kampungnya hanya sepanjang jalan raya yang dekat ke Kasbah aja. yYang ada penduduknya, hotel hotel dan restaurant itu sudah pasti berada dekat Kasbah. Untuk menuju Kasbah palingperlu jalan 5 menit aja dari jalan raya sdh bisa sampe ke sana. Kalo tidak tahu jalan tanya aja pasti dikasih tahu.

Kalau mau menginap di Ait Benhaddou juga  tidak apa apa  karena penginapan disini lumayan murah. Saya aja bayar 200 dirham (18 euro) sudah bisa mendapatkan hotel bagus dengan  view ke Kasbah. Hotel La Baraka namanya. Tadinya mereka meminta ku 250 dirham/malam, lalu ku tawar minta 200. Mereka bilang kalau mau yang harga 200 ambil kamarnya cuma bisa di kamar yang paling atas, di Lantai 3.Lucunya ketika saya lihat, justru kamar paling atas ini yang paling bagus menurutku karen langsung menghadap teras dan terasnya luas bisa memandang 360 derajat ke seluruh Ait Ben Haddou juga ke seluruh Kasbah.  Awww..what a luck...Tentu aja saya langsung mengiyakan.

Disini jg aman banget kata orang lokal, krn polisi berpakaian preman ditempatkan dimana2 bertugas menjaga keamanan tourist spy tidak terjadi kasus pelecehan, pencopetan, penipuan dll karena penduduk disini mata pencahariannya ya hanya dari tourist.
Mereka sangat takut hal jahat disini terjadi, takut kalau tourist tidak mau datang lagi.

Catatan: Jika kalian menyeberang sungai melalui karung pasir yang di pakai untuk melompat menuju Kasbah, jangan pernah mau dibantu sama anak anak yang menawarkan bantuan. Jangan pernah mau dipegang tangannya, dibimbing apalagi di bawain barangnya. Kalian akan kecele karena akan ditagih bayar. Aku yang udah mati matian nolak aja ditagih bayar karena mereka sudah nemenin jalan disebelah ku jar.
 Laah....anak anak ini,  belum tahu dia kalo emak ini galak. Langsung tak omelin pake bahasa apa aja gak perduli mereka ngerti atau ndak. Tak balikin kata2nya " kenapa lo mau ngekor disamping maaaass." Terus mereka mengkeret ngga jadi lanut nagih dan pergi mengejar turis lainnya. Duuh.. Tourist scammers banget deeh...!!!


Teras Hotel kami
#AlceMaroko
#AlceAitBenhaddou
#AitBenhaddou
#Maroko



Cara ke Padang Gurun Sahara

Why Erg Chegaga?

Kenapa harus ke Erg Chegaga?

Paradise on earth of Chegaga
Ketika kalian tanya2 orang yang sudah pernah ke Maroko tentang harus ke gurun mana sebaiknya kalau mau ke padang gurun di Maroko, pasti kalian akan mendapatkan opini yang berbeda. Dan sueer..pasti bikin bingung untuk memilihnya. Begitupun dengan saya awalnya.

Banyak yang mengatakan ke Merzouga yang lebih bagus, murah dan gampang...tetapi ketika saya bertanya ke orang2 maroko yang berasal dari suku Nomad mereka mengatakan lebih baik ke Erg Chegaga, karena lebih wild jar.

Baiklah baca terus uraian dibawah ini, semoga bisa membantu kalian memilih dengan baik.


Gini,
Ketika mau ke Padang Pasir saya search bener2 di internet tentang informasi yang ada. Mau kemana, pilih yang mana dan kenapa? Karena
Trip semacam ini bagiku adalah semacam trip yang once upon a lifetime. Jadi harus hati2 memilih!
ya perhitungan orangnya. Saya ngga mau rugi kalo sudah keluarin biaya mahal, dan waktu juga hilang lalu habis itu ngga puas dengan perjalanan saya. Ogaaahh…!!!
Untuk ke Erg Chegaga ini memang sulit sekali dan mahal. Tidak ada transport umum! Kita harus pergi ke Desa terpencil Mhamid yang merupakan desa terakhir yang kita temui sebelum menuju ke Erg Chegaga.
Aku dengan suku Nomadku
Kalau mau naik bis umum kesini cuma ada 1x perhari yang akan tiba menjelang tengah malam. Nah, berarti harus sudah siap dengan booking duluan doong hotelnya. Disini juga ngga ada taxi atau ojek, jikalau kalian tiba disini dan bertanya kearah mana pergi menuju hotel maka akan banyak yang menawarkan bantuan untuk mengantar (jalan kaki) untuk menuju ke hotel.
Tapi jangan kaget yaa..., itu tidak gratis, harus ada imbalannya!! Saya merasa ini bagian dari tourist scam loohh…
Kalo mau cara yang gampang dan aman sih beli paket open trip dari Marakesh. Tapi jangan kaget yaa semuanya mehoong abiiss…untuk paket 4 days 3 night aja harganya bisa sampe 300-400 euro/orang belum lagi kita masih nanggung resiko scam yang kemungkinan tidak dibawa ke destinasi yang kita inginkan (karena pikirnya toh kita ngga tahu) lagian kl sdh ngikut kita jg ngga bias protes dan mundur kaan. Emang mau di tinggal di gurun batu yang tandus apa??
Juga jangan percaya trip yang murah2 karena gitu deeh…
saya banyak sekali dengar disana orang complain karena tujuan trip yang tidak sesuai, Ini masalah umum yang sering terjadi di Maroko.
Yang baik adalah menderita dikit. Pergi sendiri ke Mhamid lalu setelah sampai disana tanya2 sama penduduk lokal atau agen2 trip disana yang berada diseputar jalan desa Mhamid.
Ingat, pasti kalian dapat harga yang berbeda2. Dan everybody want to make money on you here loh. Komisi diatas komisi!! Jadi pintar2 mencari dan menawar sampai teler. Lebih baik lagi kalo kalian bisa ketemu pemilik mobil 4x4 yang mau menuju kesana jadi bisa cut down the price. Untuk Penginapan disana banyak tenda2 suku Nomad yang tersedia untuk tourist jadi gak usah khawatir kalo gak ada tempat menginap.

Anakku dibawa jalan2 naik onta udah termasuk dlm paket
Desa Mhamid merupakan desa kuno yang terbilang sangat kecil. berpenduduk Suku Berber atau dikenal juga dengan suku Nomad. Mereka boleh dikatakan primitive, suku yang miskin dan terbelakang. Disini tidak ada fasilitas apapun. Hotel juga ada beberapa dan masih terbilang masih murah. Masih ada warung2 kecil yang berjualan keperluan sehari2, kalo warung makan ya limited banget dan kemungkinan juga ngga pas sama makanannya. Saya juga tidak cocok, untungnya saya bawa Salami dan butter dari Jerman sehingga kami tinggal beli rotinya aja untuk makan. Nyesel banget saya tidak bawa indomie looh.
Saran,
Di desa Mhamid kalian masih bisa membeli aqua, jadi kalau sudah mau berangkat ke Chegaga bawalah botol aqua secukupnya untuk keperluan minum kalian, karena disana sudah tidak bisa membeli apapun lagi. Pemilik Tenda pun pasti tidak menyediakannya buat tamu tenda.
Bagaimana saya melakukan Trip saya ke Chegaga?
Jauh sebelum kesini saya sudah saling berhubungan dengan member couchsurfing yang menghubungi saya yang bernama Hassan. Tapi seperti kebanyakan member disini itu tidak mengerti apa itu CS yang sebenarnya. Mereka mah straight away nawarin paket ini dan itu dst. Semua mau cari uanglah. Tapi aku juga gak terlalu perduli, yang penting ada tempat utk komunikasi dan bertanya ala2 ku laah. Hassan menawarkan ku paket ke Chegaga gak kalah mahalnya dengan hotel tapi setelah kutekan dia akhirnya dia mau kurang.
tenda kami ada 8 tapi cuma aku dan anakku saja tamunya
Jadi lah aku bayar 1.500 dirham/malam utk 2 orang ; aku dan anak ku. Harga sdh inclusive semuanya(transport,nginap di tenda, makan, naik onta dan bisa pake alat sand boarding). Mahal sekalee memang, tapi apa iya aku mau rugi setelah capek2 kesini cuman end up di Mhamid?
Kalau cuma mau menikmati dunes (bukit2 berpasir) yang kecil sambil menikmati naik camel sih bisa juga dilakukan di Mhamid dengan membayar 400 dirham, tapi you know lah thats not a real desert (kata orang Maroko) itu mah sekedar jalan2 dipadang tandus aja buat mereka.
Alhasil kami deal dan berangkat dengan menggunakan penawaran dari Hassan. Dia carikan kami mobil, kami berangkat ke Chegaga. Hassan ikut menemani, sopir bawa anak lelaki kecilnya biar ada yang bermain bersama Ribka.
Perjalanan menuju ke Chegaga menempuh waktu 1, 5 jam padahal jaraknya cuma 60 kilometer lhoo.
Karena jalan disana itu liar (Cuma padang gersang berbatu atau berpasir) maka sangat dibutuhkan keahlian supir untuk menyetir juga karena tidak ada jalan resmi dibutuhkan pengetahuan sopir yang baik untuk mengetahui kemana dia harus menemukan arahnya.
Tidak ada pohon tidak ada tanda apapun yang menandai arah membuat kita tidak bisa nekat berangkat sendiri kesana.

Suku Nomad, pelayan tenda kami
Aku juga sampai membatin, kalo mereka ini jahat sama kami, pasti kami akan tinggal namanya saja.
Ketika kalian kesini jangan membayar penuh sebelum kembali, bikinlah perjanjian kalau tidak melewati Oasis atau kalau tidak sampai ke Chegaga maka kalian tidak akan membayar penuh. Ohh..harus pake ancaman of course kalo gue mah gitu. Karena tidak ada jaringan jadi download lah offline map dari google supaya kalian bisa tahu posisi kalian berada dimana.
Akhirnya kami sampai ke tenda. Aku check offline map ku, benar …kami berada di Erg Chegaga dan tenda kami persis di sebelah Bukit pasir yang terkenal itu. Total tenda ada 8 buah, tapi kami satu2nya tamu tenda malam itu namun saya sudah tidak ngeri lagi karena feeling saya mengatakan Hassan dan sopir asli ramah dan baik.
Ditenda juga ada 2 orang pengurusnya, 2 laki2 Nomad yang menyambut kami dengan ramah. Setelah meletakan barang kami ditenda, kami langsung keluar menaiki bukit2 pasir itu.
Menurut suku Nomad disni, Erg Chegaga adalah padang pasir yang masih liar dan mereka mengklaimnya sebagai padang pasir yang sebenarnya di sahara.
Bukit2 berpasir itu bisa mencapai ketinggian sampai 60 meter, sayangnya aku cuma punya Hp camera (seperti biasa aku malas nenteng real camera) jadi tidak bisa ku abadikan seindah realnya suasana.

Malam hari suku nomad bermain music, saya menari
Erg Chegaga sangat syahdu, tidak ada network, tidak ada internet, tidak ada lampu apalagi suara mobil dan motor, yang membuat suasana disini bagaikan suasana Hari Nyepi di Bali.
Malamnya, setelah makan… 2 Pengurus tenda, sopir dan anaknya, juga Hassan yang semuanya merupakan suku Nomad asli. Mereka membuat api unggun persis di depan tenda kami. Lalu mereka memainkan Jembe membuat percusi yang cantik.
Tak tahan sekedar duduk menikmati, aku mengambil rok belly dance yang sengaja ku bawa, aku mulai menari…maaang tareeekkkk maaang…
Jangan harap ada video dan foto bagus. Karena partner in crime ku (Ribka) lebih senang menikmati suasana dari pada maen camera. Ya iyaaalaaah..😂😂
Semua sumringah, tidak ada yang usil tidak ada yang mengganggu ku padahal cuma aku dan ribka disana perempuannya.
Jauh dari tenda kami juga ada tenda2 lainnya (saling berjauhan) dan dari tenda2 itu pun terdengar suara music memainkan gendang. Aku dan Ribka sangat menikmati real life of Nomaden life ini..
Besoknya kami pulang dan tidak kekurangan apapun, membawa kenangan yang tak terlupakan dan mungkin cuma terjadi 1x seumur hidup ini.
#AlceChegaga
#AlceMaroko
#ErgChegaga
#Maroko

Selasa, 24 April 2018

14 Hari caraku Keliling Maroko


Caraku melakukan perjalanan.

Kemana aja siih?


Total jalan yang kami ukur adalah sepanjang : 3564 km, menghabiskan uang bensin 1.250 dirham, bayar toll total 220 dirham. mengunjungi 14 kota, tidak termasuk kampung dan kota yang sekedar numpang lewat, pipis atau sekedar ngaso dan istirahat makan. Kami memulainya dari kota Tangier karena saat membeli tiket yang paling murah adalah yang dari Tangier, lagian alasan utama lainnya adalah saya menempatkan Kota Biru Chefchaouen sabagai target utama saya yang harus dikunjungi dan dari Tangier adalah cara yang termudah. Dengan memilih lewat Tangier duluan akhirnya saya bener-bener bisa keliling Maroko dengan puas. Kalo memilih first city enter-nya lewat kota lainnya duluan, saya yakin belum tentu saya menginjakkan kaki di kota Tangier ini.


Gimana ceritanya kok dalam waktu sesingkat ini bisa keliling muter-muter ribuan kilometer padahal saya travelling dengan anak kecil yang baru berumur 8 tahun??
Si Bapak Jerman itu

Ingat kan cerita saya , 2 bln sebelum travelling ke Maroko saya memposting di group traveller couchsurfing. Saya memposting tentang trip plan saya ke Maroko.
Dari waktu yang 60 hari itu saya mendapatkan 67 tawaran yang menawarkan hosting ke saya, padahal tujuan saya memposting bukanlah untuk mencari tempat menginap gratis, tetapi murni untuk sekedar mencari catch up atau mencari wadah bertanya apa tentang keadaan di Maroko. Karena jujur saja suami sangat berat hati melepaskan saya dan anak untuk berangkat kesini karena orang di eropa umumnya menganggap Maroko bukanlah tempat yang aman untuk dikunjungi. Masih banyak tempat lain yang aman dan yang lebih bagus dari sini begitu katanya yangsering aku dengar.

Lalu dari contact couchsurfing yang menghubungi saya, aku mulai menyaring dan memilih yang mana aku mau keep in contact atau bertukar nomor WA.

Akhirnya untuk tujuan singgah dan bermalam di Tangier aku memilih tinggal di rumah seorang member Couchsurfing seorang Bapak yang berwarga negara Jerman yang sudah berumur 62 tahun. Alasan utama memilih Bapak ini, selain sama-sama berasal dari Jerman kami bisa berkomunikasi dalam bahasa dan saya karena sudah lama tinggal di Jerman sudah mengenali dengan baik adat dan prilaku orang-orang dari negara ini. Selain itu Bapak ini memiliki profile yang clear dan referensi yang baik tentangnya. Mempunyai pekerjaan yang jelas dan bisa di percaya. Bapak ini bekerja sebagai direktur sebuah perusahaan logistic di Tangier. Dari mana saya tahu? Di profilenya ditulis dengan jelas dan setelah kita kenalan melalui Wa bapak ini memberikan kartu nama dan alamatnya.

Saya dan anak saya Ribka di jemput di airport ketika kami tiba di Maroko. Bapak ini sendiri yang menawarkan untuk menjemput kami. Saya sebelum tiba sudah memberi tahu duluan jika saya hanya ingin menginap 3 malam saja dirumahnya. Di Tangier kami diantar kemana-mana, diajak keliling-keliling mulai dari tempat wisata penting di Tangier bahkan sampai tempat yang hanya orang Maroko saja yang tahu. Hal yang paling membuat aku berterima kasih adalah kami di antar jalan-jalan ke Chefchaouen, sebuah kota kuno Maroko yang terkenal dengan julikan si Kota Biru. Padahal awalnya aku agak rada-rada bingung bagaimana nge-set jalan-jalan ke Chefchaouen karena selain tidak ada jalan kereta yang ke sana, juga informasi yang saya dapatkan untuk jalan-jalan kesana itu masih agak semrawut sistemnya. Namun keberuntungan itu lagi ada di fihak saya, kami bahkan tidak hanya diantar pulang pergi, tetapi kami juga diajak jalan-jalan melewati kota-kota lain disekitarnya. Dibawa ketempat makan murah-murah dan enak-enak. Di rumahnya, bapak ini bahkan selalu memasak untuk kami (hobbynya masak). Setiap pagi disaat kami bangun, beliau selalu menyiapkan breakfast ala Jerman buat kami.…hahaha…betapa beruntungnya yaa.

Saya tentu saja berusaha berkontribusi, berusaha membayar makan jika kami makan diluar, membeli groceries jika kami ke supermarket.  Menawarkan diri membeli atau membayarkan bensin untuk mobilnya yang dipake jalan-jalan. Tapi bapak ini selalu menolak tawaran ganti ongkos bensinnya, yang sering diterima paling jika saya membayar makanan. Itupun terkadang masih sering ditolak. Mungkin nggak nyaman dibayarkan perempuan kali.

 Mungkin karena melihat antusiasku setiap hari yang penuh expressive, Bapak ini jadi tertarik untuk melakukan traveling bareng. Beliau menawarkan ku untuk keliling Maroko bareng. Mulai dari rumahnya di Tangier, kekota-kota penting di Maroko, ke tempat-tempat yang dia juga belum pernah kunjungi, bahkan sampai di Padang Gurun Merzouga.

Kebayang khan kemana-mana diantar pake mobil pribadi, bahkan seperti ada pengawal? Bukan naik turun bus atau kereta seperti yang aku rencanakan? Ohh..betapa mudah, murah dan amannya perjalananku ini nanti bathinku.

Tapi dasar karakter ku adalah seorang petualang sejati. Ditawarin kemudahan kayak gini aku kok malah gak suka yaa…malah mikir lagi, takut nanti gak puas! Lah gimana…?? Pikirku ; Bapak ini adalah seorang Jerman. Yang walaupun sudah 5 thn tinggal di Tangier tapi tetap bukan seorang lokal. Ini akan mengurangi cita rasa ku dalam travelling.  Lalu menurutku karena umurnya yang sudah tua dan karakternya yang serius membuat dia jadi orang yang nggak asik buat travelmate ku nanti.
Kalau mau cekakak cekikik gak jelas aja pasti merasa gak nyaman. Dan pasti gak mungkin di ajak gila!! Kita mau selfie bolak balik di depannya juga ya pasti jadi risih. Nah mana mau kaannn. Ini membuat ku berpikir seribu kali jika jalan dengannya. Pasti gak mau rugi kaaan..???.hihihi…Gratis aja belum tentu menyenangkan...hihihi, garuk pala barbie deeh..wkwkw..

Youssef dan Elliassengaja  bergaya Nomad

Jadi, dari pada travelling ku gak puas, dan gak nyambung lebih baik aku cut aja dengan beliau sampai disini. Aku cut dengan sopan tentunya. Berani bener kaan akuu?? Dikasih jalan yang gampang dan enak kok malah nyari-nyari yang lain, mo cari susah ??

Karena aku sudah meng-cut Bapak ini, malam kedua di rumahnya aku mulai buka file travelling communityku lagi. Lalu ada anak muda mahasiswa dari Rabat yang menawarkanku untuk travelling sama-sama, share cost keliling Maroko. Intinya dalam perjalanan itu aku membayar 2.250 dirham(mobilnya kami sewa) plus biaya bensin dibagi bersama selama perjalanan dan tujuan boleh kemana aja sesuai persetujuan bersama selama 12 hari (cuma 12 hari karena masa tinggal ku sudah kepotong di Tangier ). Katanya, jika aku keberatan membayar sejumlah diatas, kita bisa tambah orang lagi supaya lebih ringan lagi biayanya.  Tapi aku langsung menolak! Perjalanan 12 hari keliling naik mobil bahkan boleh kemana saja dengan biaya 2.250 dirham itu cuma sekitar 220€ atau kata mbah google,  it's cost nothing looh. Aku nggak mau banyak-banyak orang di mobil, aku nggak mau rame. Jadilah kami berangkat cuma ber-4. Aku dan anakku Ribka, Youssef dan teman nya Ellias anak seorang komissaris polisi di Rabat.



Walaupun tadinya aku penuh perasaan ragu terhadap Youssef karena hanya mengenalnya dari Media Couchsurfing aku merasakan energy yang baik saat chatting dengannya di wa. Jadi walaupun melihat profilenya yang kosong tanpa referensi dan dia seorang Maroko asli, aku memberanikan diri setuju jalan bareng dengannya…Kami bikin janji ketemu dengannya di Kota Rabat, aku dan Ribka naik kereta dari Tangier kesana. Dan anak muda ini menjemput kami di Stasiun kereta Rabat tanpa memungut biaya lalu kami di ajak kerumahnya dan dikenali dengan orang tua dan saudaranya.

Youssef adalah seorang Mahasiswa cerdas yang mendapat beasiwa mulai dari SMA kerena kepintarannya akan matematika dan fisika. Dia mahasiswa khusus yang belajar tentang nuklir, dan dapat berbahasa Inggris dengan sangat fasih.

Youssef membawa Ellias, anak seorang Kepala Komisaris Polisi Ibukota Rabat. Alasannya membawa anak ini karena kami bisa memanfaatkan pengaruh Bapaknya Ellias. Kami meminjam lambang polisi tertentu dari Bapaknya untuk di tarok di kaca depan mobil  untuk mendapatkan special treat dan respect dan menjaga keamanan kami di jalan !!

Membawa lencana polisi yang ditempel di depan mobil membawa kemudahan dan pengalaman tersendiri.  Paling enggak, untuk parkir gak pernah ada yang berani minta duit…hahaha..
yang ini sering bikin ketawa, karena pas tukang parkir minta duit parkir begitu melihat lencana, mereka langsung mundur bilang gak usah bayar...hahaha…Biaya parkir nggak mahal memang, tapi kami puaaasss bisa ngerjain….














Ada lagi,
Di Maroko itu kontrol polisi dijalan ketat buanget. Aparatnya juga masih suka korupsi dan cari celah buat malak kendaraan dijalan. Karena di Maroko itu masih seperti di Indonesia juga, orang sering membawa kendaraan tanpa surat menyurat yang lengkap bahkan terkadang tanpa sim. Maka polisi sering melakukan menyetopan kendaraan dijalan dan melakukan pengecekan surat menyurat. Selain itu mereka sering mengontrol orang asing dan mencari-cari kesalahan supaya dapat uang lebih, nilep ceritanya. Nah, kami juga sering di stop, tapi biasanya begitu lihat lencana langsung dibiarin lewat.

Sialnya, pas dalam perjalanan pulang menuju Ibu kota Rabat kami di stop untuk alasan yang tidak jelas, kesalahan yang dicari-cari. Kami diminta membayar 400 Dirham, tentu saja anak 2 ini menolak habis-habisan. Tapi polisi memaksa dan meminta kami tetap membayar walaupun mereka sudah melihat lencana yang ada mereka tidak perduli.
Akhirnya Ellias menelpon Bapaknya. taraaa…Bapaknya Elias meminta bicara dengan polisi yang menahan kami. Begitu telepon diberikan, polisi yang tadinya keras banget dan ngotot meminta kami membayar langsung mengkeret merunduk runduk meminta maaf karena telah mengganggu perjalanan kami…..wuahahaha..
serasa VIP banget deh rasanya…hahaha…
Masuk ke dalam mobil kami langsung pergi… #ngakak,!!!

Anak dua ini juga seruuuu bangeeet…dua-duanya kocak dan koplak gak pake jaim! Gila habiiiss…

Walaupun Youssef berasal dari keluarga kelas menengah dan memiliki rumah yang disewakan lewat Airbnb (rame terus loh) Ellias yang seorang anak Komisaris polisi ibu kota, anak 2 ini hemat habis. Apa-apa nggak mau yang mahal, apa-apa nawarin sampe teler. Jadi masuk hotel, beli makanan atau apapun kita selalu berusaha mendapatkan tarif seminimum mungkin..hahhaa…

Ellias pintar bermain music, kami membawa gitar dan tabla di mobil. Dimana pun kami stop dan mengaso kalo ada tempat yang bagus untuk bermain musik dia akan memainkannya. Bahkan sering dalam perjalanan yang panjang di dalam mobil, dia memainkan gitarnya dan kami bernyanyi bersama-sama. Walaupun jalan jauh gak terasa dan tidak membosankan. Nah lagi-lagi beruntung, kaan??

Pengalaman paling lucu terjadi di Kota Essaouira, ketika kami yang kelaparan duduk makan di restoran, ada group music yang datang mengamen pake tabla dan biola. Karena kurang puas dengan permainan pengamen, si Ellias meminjam alat mereka dan memainkan alat musiknya sambil terkadang bernyanyi. Melihat dia bermain dengan indah, tak tahan aku  bangkit berdiri dan menari (fyi, aku bisa belly dance yah). Orang di dalam restoran pada bersorak seru dan rame sekali mendukung kami, apalagi terhadap aku yang turis..hahhahaSuasana jadi hangat dan bikin semua orang senang. Si pemilik restaurant pun karena senang memberikan kami gratis minuman. hehehe.


Dalam perjalanan kami, aku dianggap cukup baik oleh anak 2 ini, mereka dua sangat respect sama aku dan sangat melindungi sekali. Dalam perjalanan kami karena mereka 2 fuul yang menyetir, jadi aku mau imbangi kebaikannya. Kalo makan sering aku yang traktir, lagian karena memang murah. Sistem makan di Maroko juga sama seperti di Indonesia, apapun yang kita pesan bisa kita share dan dimakan bersama-sama.

Karena sering menceritakan tentang perjalanan kami dan bagaimana aku sering mentraktir mereka, orang tua ke dua anak ini justru penasaran pengen bertemu dengan ku. Mereka mengundang saya dan Ribka ke Rabat untuk bermalam di rumah mereka sebelum kami pulang ke Jerman.
Kami kerumahnya , rumah kedua orang tua Youssef dan Ellias. Di jamu ala keluarga Maroko dan diterima dengan ramah sekali. Serasa aku dan Ribka telah menemukan keluarga baru disini. Ketika pergi kami juga diantar ke stasiun dan di wanti-wanti kalau ke Rabat lagi suatu hari nanti tidak boleh tinggal di hotel tapi tinggal di rumahnya saja. Amiinn…

Mobil yang kami pakai

Rute perjalanan kami di Maroko:

Tanger-Chefchaouen-Tanger = 228 km, 4 jam
Tanger-Rabat=250 km, 4 jam
Rabat-Casablanca=86,9 km 1,5 jam
Casablanca-Marrakesh = 243 km = 2 jam 39 menit
Marrakesh-Essaouira = 258 km = 3 jam 46 menit
Essaouira-Agadir =286 km = 3 jam 24 menit
Agadir-Ait Ben Haddou = 443 km = 7 jam
Ait-Ben Haddou-Ouarzazate = 30,3 km = 3,5 jam
Ouarzazate-Zagora = 163 km = 3 jam
Zagora-Mhamid = 98, 8 km = 5 jam real
Mhamid-Erg Chegaga = 60 km = 1,5 jam real
Erg-Chegaga-Mhamid = 60 km= 1,5 jam real
Mhamid – Errachidia = 556 km 10 jam
Errachidia- Fez = 336 km 6 jam
Fez-Rabat = 206 km, 3 jam
Rabat Tanger = 259 km, 3 jam

* Kalau kalian mengecek jarak di google jangan percaya yaa, perjalanan di Maroko selalu lebih lama dari yang diukur google*

Catatan ; Anak 2 ini tidak ikut trip kami ke Erg Chegaga karena mereka tidak mau membayar biaya yang mahal. Mereka 2 memilih tinggal di desa M'Hamid rumah Hassan seorang member couchsurfing yang menghubungi ku melalui postinganku di di CS.  Mereka menunggu kami didesa M'hamid sampai aku dan Ribka kembali dari padang gurun Erg

Chegaga.

*Baca cerita saya lainnya https://alceganyau.blogspot.de/2018/04/cerita-lengkap-tentang-maroko.html